Selasa, 18 Oktober 2011

Asi Ekslusif

Peranan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman alamiah utama untuk semua bayi cukup bulan yang diperuntukan selama usia bulan-bulan pertama kehidupan bayi (Nelson, 2000).1 ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik bagi neonatus dan infant. ASI selalu mudah tersedia pada suhu yang sesuai diinginkan bayi dan tidak memerlukan banyak waktu untuk persiapannya. Substansi ASI segar dan bebas dari kontaminasi bakteri yang berbahaya sehingga mengurangi peluang gangguan pencernaan.
Berbagai kandungan dari susu ibu dapat memfasilitasi transisi kehidupan bayi dari inutero menjadi exutero. Cairan dinamis ini menyediakan berbagai substansi bioaktif yang diperlukan bagi perkembangan bayi selama periode kritis pertumbuhan otak, sistem imunitas dan saluran pencernaan. Selama masa laktasi kelenjar air susu berkembang hingga mencapai kapasitasnya untuk memproduksi ASI melalui berbagai tahapan perkembangan.

ASI MAKANAN TERBAIK BAGI BAYI ANDA
Proses Terbentuknya ASI
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
1. Mammogenesis : Terjadi pertumbuhan payudara baik dari ukuran maupun berat dari payudara mengalami peningkatan.
2. Laktogenesis :
  • Tahap 1 (kehamilan akhir) : Sel alveolar berubah menjadi sel sekretoris
  • Tahap 2 (hari ke-3 hingga ke-8 kelahiran) : Mulai terjadi sekresi susu, payudara menjadi penuh dan hangat. Kontrol endokrin beralih menjadi autokrin.
3. Galaktopoiesis
4. Involution

Kandungan ASI
ASI merupakan cairan nutrisi yang unik, spesifik dan kompleks dengan komponen imunologis dan komponen pemacu pertumbuhan. Berbagai komponen yang terkandung dalam ASI antara lain :1,2,3,4
  • Enzim untuk membantu pencernaan
  • Protein, karbohidrat dan lemak untuk pertumbuhan otak yang optimal
  • Imunoglobulin
  • Leukosit
  • Faktor-faktor pertumbuhan
Manfaat ASI
Pemberian ASI di anjurkan bagi bayi dan dianggap memberikan keuntungan yang unik. Bayi yang diberikan ASI (setidaknya selama 6 bulan) memiliki penurunan resiko terhadap berbagai penyakit akut maupun kronis, termasuk infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran nafas bawah (flu), infeksi saluran kencing, infeksi telinga (otitis media), dan reaksi alergi (seperti dermatitis atopi dan asma). ASI berisi antibodi bakteri dan virus termasuk kadar antibodi IgA sekretori dan makrofag dalam kolostrum yang relatif tinggi hingga mampu mencegah mikroorganisme.1,2,4
Selain itu, anak yang diberikan ASI secara penuh selama 6 bulan atau lebih memiliki kecenderungan untuk memperoleh perkembangan mental yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang tidak diberikan ASI. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek dari ASI kemungkinan melindungi anak atau remaja dari kelebihan berat badan. ASI dari ibu yang dietnya cukup imbang dan bergizi akan memasok nutrisi yang sangat diperlukan bayi.1
Menyusui dengan ASI sangat bermanfaat bagi psikologis ibu maupun bayi dan memberikan pengalaman yang memuaskan bagi keduanya. Ibu yang secara pribadi terlibat dalam pengasuhan bayinya akan memperbesar perasaan berbahagia dan prestasi sebagai ibu yang baik. Bayi diberikan kedekatan hubungan fisik dengan ibu yang baik dan menyenangkan. Menyusui memberikan tambahan kesempatan untuk berkontak rasa yang erat antara ibu dan bayinya.1
Adapun beberapa manfaat lain dari ASI bagi bayi maupun ibu yang menyusui antara lain :2,3
  • ASI lebih murah.
  • Bayi yang menyusui ASI cenderung lebih sehat.
  • Memberikan perlindungan imunitas pasif dari ibu pada anak.
  • ASI membantu penyerapan berbagai vitamin.
  • ASI mengandung berbagai protein yang tidak ada pada susu sapi atau buatan.
  • ASI membantu mencegah terjadinya reaksi alergi (dermatitis atopi, asma).
  • Mengandung berbagai enzim untuk membantu proses pencernaan.
  • Ibu yang menyusui memiliki insiden yang lebih rendah terhadap kemungkinan kanker payudara.
  • Ibu dan bayi menjadi lebih rileks.
ASI EKSLUSIF SELAMA 6 BULAN
SANGAT PENTING UNTUK BAYI ANDA

Keterampilan Menyusui
Banyak permasalahan dalam menyusui seperti (nyeri pada puting susu, susu yang jumlahnya sedikit, atau ibu tidak nyaman dalam menyusui) bisa dipecahkan dengan meningkatkan teknik dasar dalam menyusui, khususnya dalam memposisikan ibu dan bayi dengan benar.4
Posisi Ibu :
  • Duduklah dengan nyaman dan carilah posisi yang paling nyaman ketika duduk diatas kursi, atau kursi goyang, kursi berlengan atau bahkan duduk diatas kasur dengan bersandar pada dinding atau sandaran kasur.
  • Letakkan bantal dibelakang punggung, dan dibawah lengan yang akan memberikan tumpuan ketika ibu menggendong bayi.
  • Gunakan tumpuan kaki atau pijakan bila ibu duduk, khususnya bila menggunakan kursi yang cukup tinggi.
  • Bisa juga ibu bersandar pada sandaran kasur dengan posisi menghadap bayi dengan menggunakan bantal sebagai penyangga kepala, leher, punggung dan kaki bagian atas.
Posisi bayi :
  • Disarankan untuk memulai persiapan pemberian ASI dengan mengenakan pakaian yang sederhana pada bayi atau bahkan tidak mengenakan pakaian, untuk meningkatkan kontak dengan ibu.
  • Baringkan bayi dalam dekapan ibu, dengan posisi menghadap payudara. Posisi leher pada lipatan lengan, badan terbaring disepanjang lengan dan pantat dipegang oleh tangan.
  • Setelah itu putarlah tubuh bayi sedemikian rupa sehingga posisi bayi berhadapan dengan badan ibu.
  • Posisi tubuh bayi harus dalam kedaan tegak lurus menghadap tubuh ibu, jangan memutar leher bayi untuk mencapai putting susu ibu.
  • Jika posisi bayi kurang tinggi, gunakan bantal untuk menyangga lengan.
  • Posisikan lengan bayi dengan baik, lengan bawah diposisikan di bawah payudara dan lengan yang atas bila mengganggu bisa ditahan dengan menggunakan ibu jari lengan yang menggendong.
Posisi payudara :
  • Hal yang pertama perlu dilakukan dalam persiapan payudara menjelang menyusui. Secara manual pijatlah payudara untuk mendapatkan beberapa tetes ASI pada puting ibu, hal ini akan melembabkan payudara ibu.
  • Tahanlah payudara, beban payudara ditahan dengan telapak tangan dan jari-jemari di bawahnya dan ibu jari di atasnya.
  • Jauhkan jari dari daerah areola, sehingga menjauhi daerah tempat bayi menghisap susu, hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi.
Memulai menyusui :
  • Dekatkan mulut bayi pada puting yang sudah lembab tadi, lalu pijatlah bibir bayi dengan lembut untuk merangsang refleks menghisap pada bayi.
  • Ketika mulut bayi terbuka, segeralah melekatkan mulut bayi di tengah payudara dan dekatlah bayi dengan erat ke tubuh ibu.
  • Pastikan bayi menghisap hingga areola payudara bukan puting susu ibu, dengan ini nyeri pada payudara selama menyusui bisa dihindari.
  • Buatlah penyesuaian dengan irama pernafasan bayi.
  • Ketika bayi sudah menghisap ASI dengan baik maka pastikan kita mengatur posisi payudara dengan baik, tahan berat payudara dengan tangan sehingga berat payudara tidak seluruhnya membebani mulut dan bibir bayi.
  • Hal terakhir yang cukup penting adalah, ketika kita akan menghentikan pemberian ASI, jangan menarik mulut bayi dari payudara ketika bayi masih menghisap. Maka hentikan dahulu hisapan bayi lalu jauhkan bayi dari payudara dengan perlahan-lahan, hal ini bertujuan agar penghentian menyusui ini tidak melukai payudara, yang bisa berakibat nyeri hingga infeksi payudara.
BERIKAN ASI KAPANPUN BAYI ANDA MENGINGINKANNYA
Jumlah ASI yang Diberikan
Seringkali ibu yang menyusui bertanya tentang berapa seringkah menyusui atau berapa banyak ASI yang harus diberikan pada bayi, sesuai dengan umur bayi. Secara umum dikatakan bahwa pada usia 3 bulan bayi menjadi lebih cepat dalam menghabisakan ASI sehingga proses menyusui menjadi lebih cepat dan lebih jarang setelah usia ini. Namun demikian, seringkali pola minum ASI pada bayi akan berfluktuasi dalam 6 bulan pertama kehidupan.1,4
Beberapa membagi frekuensi minum ASI dengan umur sebagai berikut :1,4
a. Usia awal lahir hingga 2 bulan
Di usia ini, bayi biasanya frekuensi menyusui cukup sering dengan rata-rata setiap 1-3 jam sekali.
b. 2 bulan hingga 6 bulan
Di rentang usia ini bayi mulai mampu menghabiskan ASI dengan lebih cepat, sehingga menyusui menjadi lebih singkat durasinya dan lebih jarang dengan rata-rata setiap 3-5 jam.
c. 6 bulan hingga 1 tahun
Di usia ini bayi sudah semakin kuat dalam menyusui dan durasi menyusui menjadi lebih jarang lagi. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah setelah usia 6 bulan ini bayi sudah membutuhkan makanan tambahan selain ASI.
d. Setelah satu tahun
Saat ini bayi mungkin banyak menyusui sebanyak 2 kali perhari. Keuntungan dari menyusui tidak dibatasi oleh waktu, jika ingin melanjutkan pemberian ASI. Hal ini dapat dilakukan, hanya biasanya produksi ASI ibu di usia satu tahun ini sudah menurun, sehingga untuk mencukupi kebutuhan tumbuh kembang bayi diperlukan makanan yang lebih bervariasi.
Tanda ASI yang Cukup
Banyak ibu yang kurang memperhatikan apakah bayinya sudah cukup mendapatkan ASI, atau bahkan banyak juga ibu yang bingung dengan berapa banyak atau berapa sering pemberian ASI yang baik itu.2,4
Oleh karena itu, berbagai tanda dibawah ini dapat dijadikan pedoman untuk mengevaluasi kecukupan pemberian ASI, yaitu :2,3
  • Bayi menunjukan keinginan dan gairah yang kuat untuk bangun secara teratur untuk menyusui.
  • Irama hisapan yang ritmis dan teratur, bagian depan telinga bayi akan terlihat sedikit bergerak dan ibu bisa mendengar bayinya menghisap dan menelan ASI yang diberikan.
  • Berikan ASI selama rata-rata 15-20 menit pada masng-masing payudara setiap menyusui.
  • Berikan ASI setidaknya setiap 1-3 jam selama dua bulan pertama. Disarankan juga untuk membangunkan bayi setiap 2-3 jam untuk memberikan ASI selama beberapa minggu awal. Setelah lebih dari dua bulan bayi akan mampu menghabiskan ASI lebih cepat, maka pemberian ASI dilakukan lebih jarang hingga setiap 3-5 jam dan durasi menyusui menjadi lebih singkat.
  • Bayi ngompol hingga 6-8 kali menandakan masukan cairan yang cukup.
  • Bayi tubuh dengan kecepatan pertumbuhan yang normal, mengalami peningkatan berat, tinggi badan, dan ukuran lingkar kepala.
  • Memiliki tonus otot yang baik, kulit yang sehat dan warna kulit yang sehat pula.
Membina dan Mempertahankan Persediaan ASI
Suatu upaya harus diarahkan kepembinaan awal ibu dalam mempertahankan ASI secara normal, rajin menyusui dengan membiarkan bayi untuk sering mengosongkan susu selama terutama fase awal menyusui saat pembentukan kolostrum masih berlangsung. Bayi harus diijinkan menyusu bila lapar, tampak atau tidak tampak ada ASI yang keluar. Perlu diingat bahwa menyusui wajib dimulai sesegera sesudah persalinan ketika keadaan bayi telah memungkinkan, lebih baik dalam beberapa jam.1
Lakukan pula perawatan yang pantas pada puting susu baik dalam keadaan sakit maupun yang terasa perih atau sakit, harus dilakukan sebelum nyeri berat terjadi akibat luka lecet atau pecah. Kadang-kadang melindungi puting juga dapat membantu. Apabila keperihan menyebabkan ibu ketakutan, maka reflek ejeksi-susu dapat tertunda yang menyebabkan bayi frustasi dan selanjutnya menghisap semakin bertambah kuat.1
Adapun beberapa tips tambahan dalam menunjang upaya membina dan mempertahankan persediaan ASI yang sehat adalah sebagai berikut :1,2
  • Hindarilah faktor-faktor psikologis yang sifatnya negatif (misalnya ketakutan, marah, sedih) pada ibu. Tidak ada faktor yang lebih penting daripada kebahagiaan ibu dan pikiran yang rileks. Kekuatiran dan ketidakbahagiaan adalah contoh hal-hal yang efektif untuk mengurangi dan bahkan meniadakan sekresi ASI.
  • Menghindari kelelahan adalah penting, tetapi disamping itu ibu juga harus cukup melakukan latihan fisik untuk menaikkan kesehatan fisiknya.
  • Sekali sehari, payudara haruslah dicuci, dibersihkan guna menjaga higiene ASI. Pastika daerah puting susu harus selalu kering dan hindari penggunaan sabun yang dapat membasahi. Perawatan harus dilakukan untuk mencegah iritasi dan infeksi pada puting susu yang disebabkan penyusuan yang lama, maserasi karena puting yang basah dan lembab atau tergosok pakaian.
  • Diet ibu harus mengandung kalori yang cukup untuk mengimbangi diet bayi yang diekskresikan dalam ASI serta untuk bahan yang diperlukan untuk menghasilkannya. Ibu yang menyusui memerlukan diet lauk-pauk, tinggi cairan, vitamin dan mineral yang bervariasi agar cukup untuk mempertahankan berat badannya. Selama menyusui, ibu haruslah menghindari terjadinya penurunan berat badannya.
DAFTAR PUSTAKA :
  1. Nelson, W.E. (2000), “Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15”. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  2. Anonim. (2007), ”Mitos Tentang Pemberian ASI”.
  3. Anonim. (2006), ”Tanya Jawab ASI Eksklusif”.
  4. Soetjiningsih. (1997), “Seri Gizi Klinik, ASI Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan”. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC
Share

2 comments:

Asa Pilar mengatakan...

Blogwalking ayas, non.. Ni saya follow, follow balik ya.. :D
smoga someday bakal ada blogger party malang area yak.. :D
nuwus

Sinta A Sherly mengatakan...

ok dh, menambah shabat baru di blog...
masak kalah sama blogger bali ;)

Poskan Komentar